Lita's posts with tag: batmus minang

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag batmus minang
ddd
dThumbnaild
ddd
Kawasan Pecinan Padang... Banyak bangunan tua bergaya kolonial dan china yang bisa ditemui di sini..Seperti ini contohnya

ddd
dThumbnaild
ddd
Segala rupa hasil jepretan sana-sini selama di SumBar. Penari dan pemain musik ini adanya di Sawahlunto. Sayang, lupa nama tariannya apa.Terus, ada juga sajian permainan Kim yang seruuuuu abis. Makasih ya Pak Walikota Sawahlunto yang sudah berbaikhati kasih hiburan ke kita-kita....

ddd
dThumbnaild
ddd
Hasil jepret di pasar, di stasiun, pantai, musium, etc..etc..termasuk sebagian dari para travellers alias peserta BatMus
Yang paling berkesan adalah anak-anak yang selalu siap bergaya begitu kamera diarahkan ke mereka. Sooo cute!


ddd
dThumbnaild
ddd
MARTABAK kubang dan canai...
Sengaja dibikin album sendiri, karena gue seneng aja dengan makanan ini, termasuk proses pembuatannya. Selalu asyik untuk perhatiin si penjual membolak-balik adonan sampe jadinya lebar dan tipiiiiis banget. Ah, kok gue gak pernah sukses nipisin adonan kayak para tukang jualan itu ya?!

Beda martabak telur/kubang yang gue lihat di SumBar adalah adonan ditipisin trus dibentang terlebih dulu di atas meja marmer, lalu diberi isian berupa: telur, daun bawang, irisan daging yang lumayan besar, trus dilipat baru kemudian dilempar di atas wajan datar bersama dengan martabak-martabak lainnya. Sementara di Jakarta, adonan yang sudah ditipiskan, dibentang langsung di atas wajan, baru kemudian diisi dan dilipat. Tapi kelihatannya sih, kalo di SumBar, martabaknya memang selalu kejar tayang, jadi gak mungkin kalo dipersiapkan satu per satu di atas wajan, harus borongan. Kuah martabaknya pun sedikit beda, kalo di Minang, kuahnya diberi potongan tomat.

Canai...gak jauh berbeda dengan canai yang selama ini gue santap. Cuma, makannya dikasih taburan gula pasir. Ini hampir sama dengan di Aceh, di mana kadang-kadang canai juga disantap dengan taburan gula selai dengan kuah kari..Hmmmh, jadi pengen canai dengan kuah kari deh!

***

ddd
dThumbnaild
ddd
...through West-Sumatra

JUDULNYA serasa banget ya, serasa banget gue udah keliling se-Propinsi SumBar, padahal sih, cuma dari Padang - Bukittinggi - Sawahlunto trus balik Padang lagi deh! Berada di SumBar, berarti berkesempatan untuk menikmati masakan yang biasa disebut 'makanan Padang' langsung di tempat asalnya. Pasti seru...

Makan siang pertama, dinikmati di pinggir pantai, tepatnya pantai Gandoriah, Padang. Setelah capek di perjalanan, apalagi harus bangun subuh banget untuk ngejar sampe Cengkareng jam 5.30, istirahat di pinggir pantai sambil nikmatin makan siang, lumayan bikin seger. Hidangannya adalah....rendang, balado teri + petei, gulei..ehm, sebut deh, gulai jariang**? ada! Kepala ikan? Ada juga lah pastinya. Gulai ayam? gulai.., gulai..dan entah apa lagi yang dimasak pakei santan. Di pinggiran pantai, banyak yang jual gorengan seafood. Udang digoreng tepung, kepiting..trus apalagi ya waktu itu??

Sate? Gak mungkin terlewatkan dong. Hari pertama kita langsung dibawa tea time di Sate Mak Syukur , Padang Panjang. Potongan dagingnya besar-besar, kuahnya kuning, kental, pedes dan panas. Disantap dengan kerupuk jangek plus teh panas. Rasanya nikmat banget...apalagi waktu itu udara sudah mulai dingin. Kalo tiap hari hari t'time beginian, gawat juga nih!! Pas malam terakhir, di kota Padang, gue liat sate-nya agak berbeda dengan sate di SMS, yang ini saus sate-nya berwarna agak kemerahan, tapi rasanya sih gak jauh beda.

Di Sawahlunto, sarapan bubur kampiun. Bubur kampiunnya beda dengan yang biasa. Yang gue kenal, campuran buburnya macem-macem, ada biji salak, bubur sumsum,dan beberapa rekannya yang lain. Sementara yang gue cicip di Sawahlunto, isinya lupis, disiram kuah gula merah, tambah bubur kacang hijau, kalo mau tambah ketan item atau bubur sumsum juga bisa.

Oleh-oleh khas SumBar juga asik-asik. Ada rendang telor, rendang paru, dakak-dakak, sanjay (ini sih udah ngetop banget kali ya..), tingting, sagun panggang.etc...etc..dan inilah yang kita borong waktu mampir di toko Christine Hakim. Jajanan yang sempet dicicip adalah bika panggang di Bukittinggi, yang rasanya seperti banana muffin. Trus di Padang, coba'in es duren, daging duren dikasih parutan es, plus gula plus susu kental coklat. Jadi lupa deh sama hidung yang lagi mampet. Martabak kubang plus canai juga gak ketinggalan...

Setelah tiga hari disuguhi makanan yang bersantan + minyak, bikin badan gue gak nyaman juga jadinya. Mulailah gue berfantasi tentang bakso malang, pecel lele, nasi uduk, nasi pecel. Untunglah waktu makan malam terakhir di restoran Martabak Kubang ada menu nasi goreng, tanpa ragu, langsung gue tembak yang ini...Nasi goreng, all time favorite deh! Nasi gorengnya dikasih irisan-irisan kecil daging sapi, telur ceplok plus emping. Enak juga..paling gak lumayanlah bisa melarikan diri dari santan...

Setelah empat hari jalan-jalan di SumBar, gue berikrar untuk cuti dulu dari makanan-makanannya resto Sederhana selama beberapa waktu.

** Thanks Uni .... atas bocoran namanya!

ddd
dThumbnaild
ddd
BEBERAPA bulan lalu, gue baca liputan perjalanan ke Bukittinggi di majalah PESONA, isinya bikin gue penasaran tentang kota yang ada di utara propinsi Sumatra Barat ini. Gak lama berselang, masih taun lalu, ada suplemen dari harian Media Indonesia tentang wisata di kampungnya Siti Nurbaya ini.

Bener-bener deh, dua artikel ini bikin gue penasaran berat dengan daerah ini. Mulailah gue tanya kanan-kiri tentang travelling ke Sumbar, browsing akomodasi, tiket, bla..bla..Ceritanya sih mau travel solo.. Tapi apa daya, waktu itu cuaca kurang bagus, banyak yang nyaranin gue untuk menunda perjalanan ke sana. Apalagi waktu itu sempet ada kejadian longsor. Hmmmh..pas de chance!

Tapi...temen gue Uni Lina, kasih tau kalo Sahabat Museum bakal bikin trip ke Sumbar di bulan Maret. Yay! Pucuk dicinta ulam tiba!!! Langsung deh gue daftar...

Dan....jadilah tanggal 16-19 Maret yang lalu, niat gue untuk jalan-jalan ke SumBar terlaksana. Sayangnya, yang kasih bocoran tentang perjalanan ini ke gua malahan gak ikut. Makasih eniwei ya Uni Lina dan untuk BatMus juga dong...!

Perjalanan 4hari/3malam kita lewatin di Padang-Bukittinggi-Sawahlunto-Padang (lagi). Ternyata, apa yang ditulis di dua artikel yang pernah gue baca itu, bukan cuma sesumbar aja loh. Pemandangan sepanjang perjalanan luar biasa keren!!! Gue ampe ngerasa rugi kalo selama di jalan sempet ketiduran.

Sejauh-jauh mata memandang, yang ada gunung, bukit hijau, hamparan sawah (alah, udah kayak pelajaran bahasa Indonesia jaman SD dulu!). Belum lagi rumah-rumah khas Minang dengan segala ornamennya, trus mesjid-mesjid tua dan unik yang muncul di antara alam hijaunya SumBar. Dan yang bikin mata gue nyaman banget adalah, bunga-bungaannya bagus banget....Tiap rumah pasti punya taman bunga. Ada hortensia, asoka, mawar, melati, lili, tulip..(yeeee, yang terakhir sih bo'ong banget deh!)

Mampir di Bukittinggi, hmmmh, kota ini mengingatkan gue dengan kota Salatiga, Jawa Tengah. Bangungan-bangunan tua peninggalan Belanda, udaranya, kontur tanahnya, miriplah. Kalo Sawahlunto, kota tua, lebih senyap. Banyak bangunan tua juga sisa jaman Belanda..Peninggalan industri tambang batubara jadi dayatarik kota ini.

Indonesiaku tercintah memang bener-bener indah. Sepertinya, kita gak perlu berpikir untuk menciptakan/membangun obyek wisata baru untuk menarik minat wisatawan (asing khususnya), karena alam dan hasil budayanya sendiri sudah punya nilai jual tinggi. Percaya deh!!


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help